Skip to main content

Belum Ada Judul

Pagi ini jalanan terlihat basah akibat hujan lebat semalam.
Mendung sekarang terlihat lebih menenangkan.
Bukan karena hatiku sedang pilu.
Senja sekarang tak seperti dulu.
Sudah terlalu banyak orang yang memujanya.
Aku jadi malas menikmatinya.

Rintik pun terlihat lebih syahdu.
Berdansa dibawah derasnya air mata langit membuatku lupa akan hiruk pikuk duniawi.
Termasuk kamu.
Senjaku yang telah kurelakan pergi.

Jangan khawatir aku tak akan kena pilek.
Cuaca seperti ini bisa jadi obat paling ajib.
Hujan yang melunturkan kesedihan.
Petir mengembalikan kesadaran.
Badai membisikkan sesuatu yang menggelitik.
Kau tau apa katanya?
Menantimu untuk menghiburku adalah sebuah kesia-sia-an.

Comments

Popular posts from this blog

KISAH ABDUR RAHMAN BIN MULJAM (IBNU MULJAM)

Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam. Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Itulah kebodohan dan kesesatan orang khawarij, yang saat ini telah bermunculan generasi penerusnya. Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِ...