Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam. Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Itulah kebodohan dan kesesatan orang khawarij, yang saat ini telah bermunculan generasi penerusnya. Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِ...
Kepadamu purnama yang hilang Sejuta kata ingin kusampaikan Kemarin kutitip pesan kepada merpati Tapi tak sampai dibaca kau sudah pergi Purnamaku sedang terlihat dilain tempat Apadaya kuhanya bisa gigit jari saja Terkadang hidup ini berat Tapi lebih berat menantimu datang Tergerak untuk berlari mendekat Namun indraku tak ingin menyapa Gengsiku lebih tinggi dari tinggi badanku Usahaku lebih rendah dari sepatuku Lelah hati menanti purnama datang Cahaya lampu kamar mulai diredupkan Kuharap purnama tak kembali saja Jangan hiasi kamar ini dengan cahaya Aku sedang asyik dengan kegelapan