Skip to main content

KE BROMO CUMA NUMPANG LEWAT

Senin, 11 Februari 2019
Dinas malam hari ke-2

Beberapa waktu yang lalu ada temen lagi update jalan-jalan ke bromo. Ada yang update lagi di kawasan TNBS Semeru. Ada juga yang lagi jalan-jalan di pinggir pantai daerah Pacitan. Lihat feed instagram isinya pada preian semua. Seketika hati ini juga pengen yang adem-adem. Karena senyummu gak cukup buat hatiku adem, setelah subuh ku whatsapp semua temen-temen yang sering diajak melipir.
"Geys sepedamu nganggur? Ayo budal Malang muleh Probolinggo lewat Bromo :D"
Lalu, banyak teman-teman saya yang menjawab :
"Gendeng"
"Aku kerjo"
"Gak wani lungo, udan"
"Wedhus, ojo ndadak", dan lain sebagainya.
Akhirnya saya menguatkan hati untuk berangkat sendirian. Setelah jam dinas selesai sekitar jam 8 pagi saya langsung bergegas pulang ke rumah. Eh, ternyata di rumah adek lagi gulung-gulung tidak sekolah. Tidak ada pelajaran katanya, langsung saja saya suruh mandi dan berangkat. Kami berangkat dari Sidoarjo pukul 10 pagi. Alhamdulillah jalanan tak terlalu ramai seperti hari Senin biasanya.

Kami memutuskan untuk lewat Pos Wonokitri agar bisa langsung turun di lautan pasir.

Sebagai informasi saja, walaupun sudah banyak yang tau, ke Bromo bisa lewat 3 jalur. Dari arah Probolinggo (Tongas), Pasuran (Wonokitri), dan Malang (Tumpang). Kalau lihat kolom pertanyaan google banyak yang tanya jalur mana yang aman, saya tidak begitu mengerti. Selama saya ke Bromo baru pernah pakai 2 jalur saja, lewat Probolinggo dan Pasuruan, selama lewat jalur ini aman-aman saja. Kalau masalah jalannya bagus atau tidak saya juga tidak begitu ambil pusing karena tujuannya memang menikmati perjalanan. Mungkin next saya mau coba lewat Tumpang biar lebih lengkap infonya.

Setelah beberapa jam perjalanan, kami mulai memasuki desa Puspo. Disini mulai melewati perbukitan yang jalannya meliuk-liuk asik banget pokoknya, hawa dingin juga mulai kerasa. Sayangnya tidak mengambil gambar karena memang persiapan yang mendadak dan yang dibonceng gaada inisiatif buat foto jalan. Sekitar jam 12 siang kami berhenti sebentar di sebuah warung untuk ishoma, ngisi bensin, dan ngisi mata karena pemandangan disekitar warung sungguh eman kalau tidak dinikmati.

Telo dan tahu isi yang masih panas, petisnya mantab, ditambah susu yang bikin hangat.
Tepat di bawah warung kelihatan air terjun (Coban Rambut Moyo)
Pemandangan depan warung
Setelah sekitar 1jam beristirahat dan ngobrol dengan warga yang ada di warung kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo. Tidak lama kami sampai di Pos Wonokitri, disana kami bayar tiket masuk sebesar Rp 60.000,-. Ini biaya masuk untuk motor, dua orang, dan hari biasa. Kalau hari libur atau yang naik jeep/ mobil pribadi mungkin beda lagi harganya.

Sebelum masuk kami diberitau kalau jalan lagi licin jadi harus hati-hati, apalagi pakai motor matic. Pasir Bromo juga kemarin sempat banjir, kata mas-mas tiket walau sering hujan sekarang Bromo lagi bagus-bagusnya, banyak yang ijo katanya.

Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang benar-benar menyejukkan mata. Pepohonan lebat yang tinggi menjulang sebelah kanan dan tebing disebelah kiri. Beberapa kali juga kami melewati kanan kiri jurang yang dipikir gak lucu kalau nyemplung kesana. Sayangnya agak sedikit berkabut jadi jarak pandang ke bukit-bukit tidak terlalu nampak.

Pintu masuk Pos Wonokitri
Tidak beberapa lama gunung Bromo, lautan pasir, Gunung Batok terlihat sepanjang perjalanan. Terlihat juga sisa-sisa banjir Bromo yang kemarin sempat viral. Hati mulai tak karuan. Antara senang  dan takut. Yang bikin khawatir adalah jalur terakhir menuju bawah area padang pasir. Karena sebelum-sebelumnya selalu jadi boncengers dan sekarang jadi supir jadi agak nderedeg. Curamnya lumayan, apalagi pakai matic, takut rem blong kalau salah tehnik. Tapi untungnya bisa diatasi dengan Bismillah. Turun dari jalanan yang curam didepan mata terlihat hamparan savana yang ditumbuhi tanaman liar dekat dengan Gunung Batok. Karena lagi subur akhirnya foto-foto sebentar sambil mendinginkan mesin dan cek kondisi motor.

Setelah melewati hutan lebat Bromo terlihat gagah di diepan mata

Gerbang masuk menuju lautan pasir

Sisa banjir bromo masih keliatan


Bromo lagi subur


Belakangnya Gunung Bathok
Ternyata enak juga kalau pergi ke tempat-tempat wisata pada hari kerja. Sepi tidak ada penghuni, hanya beberapa orang yang terlihat mengunjungi Bromo. Para penjual makanan atau jasa pun juga lagi santai-santai tidak terlalu sibuk seperti saat hari libur. Tapi pemandangannya memang tak terlalu menarik karena sedang ada kabut dan angin yang lumayan kencang. Bahkan beberapa kali ada pusaran angin yang menerbangkan pasir jadi terlihat kayak tornado. Sebenarnya pengen juga jalan sampai ke kawah atau ke tugu Bromo, cuman karena sepi dan sepertinya mau hujan kami memutuskan untuk tidak memaksakan diri dan cuma menikmati indahnya pemandangan dari batas jalan luar Bromo.

Tanda area Bromo

Pasir Berbisik yang berkabut

Angin Torpedo tapi bukan

Jam menunjukkan pukul 3 sore dan matahari sudah sangat nyentrong panas tidak karuan. Kami memutuskan pulang lewat Probolinggo. Selama perjalanan kami bertemu dengan hujan yang cukup deras. Lucunya hujan dari Probolinggo sampai Sidoarjo amat sangat rata, mungkin hanya beberapa menit berhenti, lalu hujan lagi. Sampai di rumah sekitar pukul 6 sore pas banget 5 menit sebelum adzan magrib. Alhamdulillah pulang dengan selamat dan tanpa suatu apapun. Malah menambah syukur atas segala nikmat dan keindahan yang Allah berikan untuk kita dimuka bumi ini.

OTW Pulang karena sudah lapar

Nikmat Allah itu luas, jelajahi dan pelajari setiap jengkalnya, maka kau akan tau arti bersyukur

Comments

Popular posts from this blog

Belum Ada Judul

Pagi ini jalanan terlihat basah akibat hujan lebat semalam. Mendung sekarang terlihat lebih menenangkan. Bukan karena hatiku sedang pilu. Senja sekarang tak seperti dulu. Sudah terlalu banyak orang yang memujanya. Aku jadi malas menikmatinya. Rintik pun terlihat lebih syahdu. Berdansa dibawah derasnya air mata langit membuatku lupa akan hiruk pikuk duniawi. Termasuk kamu. Senjaku yang telah kurelakan pergi. Jangan khawatir aku tak akan kena pilek. Cuaca seperti ini bisa jadi obat paling ajib. Hujan yang melunturkan kesedihan. Petir mengembalikan kesadaran. Badai membisikkan sesuatu yang menggelitik. Kau tau apa katanya? Menantimu untuk menghiburku adalah sebuah kesia-sia-an.

KISAH ABDUR RAHMAN BIN MULJAM (IBNU MULJAM)

Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam. Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Itulah kebodohan dan kesesatan orang khawarij, yang saat ini telah bermunculan generasi penerusnya. Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِ...