Dinas malam hari ke-2
Beberapa waktu yang lalu ada temen lagi update jalan-jalan ke bromo. Ada yang update lagi di kawasan TNBS Semeru. Ada juga yang lagi jalan-jalan di pinggir pantai daerah Pacitan. Lihat feed instagram isinya pada preian semua. Seketika hati ini juga pengen yang adem-adem. Karena senyummu gak cukup buat hatiku adem, setelah subuh ku whatsapp semua temen-temen yang sering diajak melipir.
"Geys sepedamu nganggur? Ayo budal Malang muleh Probolinggo lewat Bromo :D"
Lalu, banyak teman-teman saya yang menjawab :
"Gendeng"
"Aku kerjo"
"Gak wani lungo, udan"
"Wedhus, ojo ndadak", dan lain sebagainya.
Akhirnya saya menguatkan hati untuk berangkat sendirian. Setelah jam dinas selesai sekitar jam 8 pagi saya langsung bergegas pulang ke rumah. Eh, ternyata di rumah adek lagi gulung-gulung tidak sekolah. Tidak ada pelajaran katanya, langsung saja saya suruh mandi dan berangkat. Kami berangkat dari Sidoarjo pukul 10 pagi. Alhamdulillah jalanan tak terlalu ramai seperti hari Senin biasanya.
Kami memutuskan untuk lewat Pos Wonokitri agar bisa langsung turun di lautan pasir.
Sebagai informasi saja, walaupun sudah banyak yang tau, ke Bromo bisa lewat 3 jalur. Dari arah Probolinggo (Tongas), Pasuran (Wonokitri), dan Malang (Tumpang). Kalau lihat kolom pertanyaan google banyak yang tanya jalur mana yang aman, saya tidak begitu mengerti. Selama saya ke Bromo baru pernah pakai 2 jalur saja, lewat Probolinggo dan Pasuruan, selama lewat jalur ini aman-aman saja. Kalau masalah jalannya bagus atau tidak saya juga tidak begitu ambil pusing karena tujuannya memang menikmati perjalanan. Mungkin next saya mau coba lewat Tumpang biar lebih lengkap infonya.
Setelah beberapa jam perjalanan, kami mulai memasuki desa Puspo. Disini mulai melewati perbukitan yang jalannya meliuk-liuk asik banget pokoknya, hawa dingin juga mulai kerasa. Sayangnya tidak mengambil gambar karena memang persiapan yang mendadak dan yang dibonceng gaada inisiatif buat foto jalan. Sekitar jam 12 siang kami berhenti sebentar di sebuah warung untuk ishoma, ngisi bensin, dan ngisi mata karena pemandangan disekitar warung sungguh eman kalau tidak dinikmati.
![]() |
| Telo dan tahu isi yang masih panas, petisnya mantab, ditambah susu yang bikin hangat. |
![]() |
| Tepat di bawah warung kelihatan air terjun (Coban Rambut Moyo) |
![]() |
| Pemandangan depan warung |
Sebelum masuk kami diberitau kalau jalan lagi licin jadi harus hati-hati, apalagi pakai motor matic. Pasir Bromo juga kemarin sempat banjir, kata mas-mas tiket walau sering hujan sekarang Bromo lagi bagus-bagusnya, banyak yang ijo katanya.
Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang benar-benar menyejukkan mata. Pepohonan lebat yang tinggi menjulang sebelah kanan dan tebing disebelah kiri. Beberapa kali juga kami melewati kanan kiri jurang yang dipikir gak lucu kalau nyemplung kesana. Sayangnya agak sedikit berkabut jadi jarak pandang ke bukit-bukit tidak terlalu nampak.
![]() |
| Pintu masuk Pos Wonokitri |
Tidak beberapa lama gunung Bromo, lautan pasir, Gunung Batok terlihat sepanjang perjalanan. Terlihat juga sisa-sisa banjir Bromo yang kemarin sempat viral. Hati mulai tak karuan. Antara senang dan takut. Yang bikin khawatir adalah jalur terakhir menuju bawah area padang pasir. Karena sebelum-sebelumnya selalu jadi boncengers dan sekarang jadi supir jadi agak nderedeg. Curamnya lumayan, apalagi pakai matic, takut rem blong kalau salah tehnik. Tapi untungnya bisa diatasi dengan Bismillah. Turun dari jalanan yang curam didepan mata terlihat hamparan savana yang ditumbuhi tanaman liar dekat dengan Gunung Batok. Karena lagi subur akhirnya foto-foto sebentar sambil mendinginkan mesin dan cek kondisi motor.
![]() |
| Setelah melewati hutan lebat Bromo terlihat gagah di diepan mata |
![]() |
| Gerbang masuk menuju lautan pasir |
![]() |
| Sisa banjir bromo masih keliatan |
| Bromo lagi subur |
| Belakangnya Gunung Bathok |
| Tanda area Bromo |
| Pasir Berbisik yang berkabut |
| Angin Torpedo tapi bukan |
Jam menunjukkan pukul 3 sore dan matahari sudah sangat nyentrong panas tidak karuan. Kami memutuskan pulang lewat Probolinggo. Selama perjalanan kami bertemu dengan hujan yang cukup deras. Lucunya hujan dari Probolinggo sampai Sidoarjo amat sangat rata, mungkin hanya beberapa menit berhenti, lalu hujan lagi. Sampai di rumah sekitar pukul 6 sore pas banget 5 menit sebelum adzan magrib. Alhamdulillah pulang dengan selamat dan tanpa suatu apapun. Malah menambah syukur atas segala nikmat dan keindahan yang Allah berikan untuk kita dimuka bumi ini.
| OTW Pulang karena sudah lapar |
Nikmat Allah itu luas, jelajahi dan pelajari setiap jengkalnya, maka kau akan tau arti bersyukur







Comments
Post a Comment