Skip to main content

Sisi Lain Coban Baung, Purwosari

19 April 2019

Hallo traveller, ada yang pernah mengunjungi Taman Purwodadi? Tentu saja kalian pernah kesana, apalagi yang berdomisili di area Surabaya-Malang. Biasanya tempat ini menjadi kunjungan study tour waktu kita masih bersekolah. Atau hanya piknik bareng dengan keluarga. Tapi apakah kalian tau ada surga tersembunyi dibalik kebun raya?

Untuk masyarakat didaerah sana mungkin tidak akan asing dengan salah satu destinasi wisata ini. Sebenarnya tempatnya tidak rumitGang masuknya tepat berada disebelah Kebun Raya Purwodadi. Jadi kita lewat disebelah kanan pagar pembatas kebun raya. Dan lokasinya memang berada dibelakang kebun raya. Tapi jangan dikira bisa lompat kedalam kebun raya ya. Bahaya. Pagarnya tinggi. Dan yang jelas bakal ditangkap warga.

Terletak di area wisata alam Gunung Baung, air terjun yang dinamai Coban Baung ini masih berada di daerah Purwosari walaupun berada di belakang Taman Purwodadi. Disana fasilitas seperti kamar mandi dan musholah sudah terlihat rapi. Ada juga warga yang berjualan disekitar dan di dalam area tersebut. Harga tiket masuk ke Coban Baung cukup murah. Untuk satu orang seharga Rp 7500 dan parkir Rp 5000. Standart tempat wisata.

Yang paling eye catching saat kita baru saja parkir adalah terdapat balkon yang kalau kita berdiri disana bisa melihat coban dari kejauhan. Keren. Dengan dikelilingi bukit batu yang sudah subur dengan tanaman liar. Dan disebelah kiri mungkin yang dinamakan Gunung Baung nya ya. Bisalah kalian lihat diinstagram, pokoknya spot ini instagramable.

Foto yang diambil dari balkon
Waktu itu saya dan teman saya berkunjung pada hari jum'at yang sebenarnya tanggal merah. Kami kira bakal ramai pengunjung ternyata kami adalah pengunjung pertamanya. Pembuka gerbang gaib 😁. Tapi tak mengapa, foto gak bakalan bocor dong kalo gak ramai. Gitu. Niatnya.

Kami juga sempat berbincang dengan salah satu pengelola yang ada disana. Tentang coban ini, kegiatan yang ada disana dan larangan yang harus kita patuhi. Cukup seru. Bikin kami penasaran walau sebenarnya agak pilu.

Menurut info yang kami terima, coban ini termasuk muara dari dua sungai yang ada diarea pasuruan dan malang. Saya lupa apa nama sungainya. Lalu sungai yang ada di Coban Baung mengalir sampai area Nongkojajar(?). Kalau salah mohon untuk dibenarkan. Kebetulan saat itu dari kejauhan air terlihat sangat coklat, saya kira habis hujan ternyata menurut pengakuan mas pengelola warna coklat bukan hanya habis hujan, tapi karena terkena limbah rumah tangga dan sampah2 yang dibuang disungai.

Mas pengelola juga menyayangkan warga sekitar yang sekarang amat sangat kurang peka dengan lingkungan. Dulu Coban Baung tak secoklat sekarang. Air nya masih jernih dan banyak diminati pengunjung. Tapi sekang sudah sepi. Banyak sampah katanya. Miris ya.

Oiya kalau kalian kesana dan bawa makanan hati2. Banyak monyetnya. Tapi untungnya waktu kami datang tidak bertemu si onyet.

Setelah ngobrol banyak kami pun memutuskan untuk turun kebawah. Lihat air terjun langsung dan sampah2 nya. Alhamdulillah sudah ada tangga walaupun sebenarnya agak berbahaya. Pokoknya gausa sompral cukup fokus dan konsentrasi tinggi. Tangga kebawah menuju coban itu ada di tengah2 hutan, jadi gak perlu takut kena panas. Dan sejuk banget udaranya seger. Hijau dimana mana.

Jalan menuju air terjun sudah ada tangganya, tapi tetap harus hati-hati
Kalau kesini waktu hujan hati-hati longsor
Jalan yang berada ditengah hutan. Adem.
Sampai disana. Langsung terik ya, karena sepanjang sungai jarang pohonnya. Dan langsung foto2 dong. Saat itu saya cuma lihat segelintir sampah yang mengambang disekitar hantaran sungai. Tapi setelah melewati sebuah batu besar untuk semakin dekat dengan air terjun. Ternyata sampah disana sangat menupuk. Banyak sandal, gabus, sisa-sisa tumbuhan, kresek, sisa-sisa pembungkus makanan yang terlihat jelas dari pengunjung yang datang, bahkan ada beberapa pakaian yang ternyata terbawa sungai. Dan akhirnya terdampar dibebatuan sungai Coban Baung.


Sebenarnya sebelum berangkat ke Coban Baung saya mencoba untuk berselancar di internet mencari info dan spot-spot foto yang ada di Coban Baung Purwosari ini. Tampaknya sih tidak ada sampah berserakan, ternyata sampahnya banyak. Dan kalau kalian lihat di google ternyata ada dua air terjun yang bernama Coban Baung, yang satunya berada di Wonosari, Kebobang, Malang. Dan menurut internet, kalau Coban Baung yang di Purwosari, yang waktu itu akan saya kunjungi, angker ceunah. Hmmmm, cuek aja sih. Niat gak ganggu. Awalnya.

Sampah yang tertimbun di pinggir sungai
Perjalanan kebawah yang melewati hutan-hutan itu sih sudah ada hawa tidak enak, tapi tidak saya hiraukan. Toh ada temennya. Sampai disana pun juga biasa aja. Pas waktu teman saya ingin mendekat ke bagian air terjun, perasaan yang awalnya tidak terlalu saya pikirkan tiba-tiba muncul dibarengi bulu kuduk yang agak merinding. Dan sebenarnya mas pengelola tadi sudah bilang kalau jangan terlalu dekat dengan air terjun yang di daerah batuan. Licin katanya. Karena teman saya penasaran, menyebranglah kita lebih dekat dengan air terjun. Ternyata hal-hal yang tidak saya inginkan muncul sedikit demi sedikit. Pikiran udah mikir gak karuan, nulis ini juga jadi gak karuan. Begitu sudah menginjakkan kaki di area berpasir yang ada disana, suara binatang agak sedikit kedengeran. Yang paling saya ingat adalah seperti suara kera yang teriak, dan itu tidak seperti suara kera yang pernah saya dengar, keras banget, agak serem, bikin deg-deg-an. Saya kira teman saya juga dengar, tapi lihat kelakuannya waktu itu yang asik foto-foto kayaknya cuma saya aja yang denger. Jadi saya mencoba untuk calm down. Dan mensugesti itu cuma halusinasi.

Area berpasir yang dekat dengan air terjun. Tahukah anda ada apa disana yang bikin kita merinding?
Asik dong kita foto-foto, puas-puasin walau sebenarnya saya sudah tidak nyaman. Semakin lama disana saya sudah semakin merasa tidak berdua saja. Ngeliat kekanan, kekiri, keatas, kebelakang. Tapi cuma berdua aja. Ngajak teman balik tapi doi masih asik foto-foto. Paling syok lagi saat teman saya ngajak semakin dekat lagi sama air terjun. Disitu bulukuduk saya merinding lagi. Kampret ni orang. Akhirnya setelah perdebatan yang sengit, kami memutuskan untuk kembali dan ngadem di Taman Purwodadi saja. Yes...

Sebagai kenang-kenangan, kita foto bareng dengan background air terjun. Hp saya taruh di batu sebagai pengganti orang yang motoin kami. Setelah foto, tiba-tiba kami berhenti beraktifitas, saling pandang, dan sepakat untuk langsung pergi dari tempat tersebut. Perginya agak buru-buru, takut, hehehe.

Sepanjang jalan pulang, entah kenapa di tangga yang kami naiki banyak banget ulet kaki seribu yang gedenya sebesar telunjuk manusia dewasa. Ngeri pisan. Tapi bodo amat pokoknya segera ke area parkiran. Sampai diatas kami duduk di balkon sambil beristirahat dan bercerita. Ternyata monyet yang diawal kedatangan tadi kita singgung datang dan menghampiri. Karena saya takut hewan akhirnya pergideh dari lokasi, lari ke Taman Purwodadi.

Di Taman Purwodadi, kami bercerita pengalaman apa yang sebenarnya membuat kami saling pandang kayak film india itu. Dari cerita saya, saya mendengar lagi suara teriakan monyet, walaupun tidak sekeras suara yang pertama tapi tetap bikin perasaan gak enak. Kalau memang si monyet bukan monyet biasanya, jika suara semakin jauh artinya semakin dekat dong. Sama seperti kalau kalian tidak sengaja mendengar ketiwinya kuntilanak. Kalau dari teman saya, dia mendengar suara seperti orang loncat dari batu yang menjadi background foto terakhir kami. Dua kejadian berbeda, diwaktu yang sama, dengan respon yang sama. Sesuatu yaa..

Foto terakhir yang kami ambil sebelum ngacir
Kami pun mencoba untuk menenangkan diri dengan bercanda dan bercerita diluar kejadian yang baru saja terjadi. Teman saya pun mencari info tentang Coban Baung. Ternyata pernah ada seorang anak laki-laki yang meninggal di tempat tersebut akibat tenggelam. Dan saya mengenal anak tersebut. Dia adalah anak dari teman Tante saya, yang sudah meninggal sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu akibat tenggelam waktu berenang di air terjun. Dan saya tidak tau kalau meninggalnya di Coban Baung. Mungkin mas nya waktu itu ingin menyampaikan sesuatu tapi saya ketakutan duluan. Atau yang menunggu memang marah karena kami waktu itu agak sompral.

Ya begitulah teman-teman. Sekian cerita saya yang penuh perjuangan ini. Perlu saya tulis beberapa kali karena error. Mungkin karena mereka tidak mau diceritakan jadi saya perlu mengedit beberapa hal yang tidak perlu, saya tidak tau. والله أعلمُ بالـصـواب

PS ; Saya bikin cerita ini bukan untuk menakuti atau membuat tempat wisata tersebut menjadi tempat untuk uji nyali atau semacamnya. Air terjun ini termasuk tempat wisata yang recomended untuk kalian yang tidak ingin bepergian terlalu jauh. Asalkan tetap menjaga kebersihan dan sopan santun. Tidak hanya di tempat ini, melainkan disemua tempat yang kalian kunjungi. Karena tidak hanya anda saja yang berada disana. Ada makhluk Allah lainnya yang menjadikan tempat tersebut menjadi tempat tinggal mereka. Salam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Israa’ : 70)


Allah SWT berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ  
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS.Al-A-rof [7]: 27)


Do'a dari Nabi Sulaiman AS, sebagaimana firman Allah SWT: 

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكاً لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُفَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاء حَيْثُ أَصَابَوَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاء وَغَوَّاصٍوَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ هَذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab." (QS Shod [38]:35-39) 


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi
dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:56)

Comments

Popular posts from this blog

Belum Ada Judul

Pagi ini jalanan terlihat basah akibat hujan lebat semalam. Mendung sekarang terlihat lebih menenangkan. Bukan karena hatiku sedang pilu. Senja sekarang tak seperti dulu. Sudah terlalu banyak orang yang memujanya. Aku jadi malas menikmatinya. Rintik pun terlihat lebih syahdu. Berdansa dibawah derasnya air mata langit membuatku lupa akan hiruk pikuk duniawi. Termasuk kamu. Senjaku yang telah kurelakan pergi. Jangan khawatir aku tak akan kena pilek. Cuaca seperti ini bisa jadi obat paling ajib. Hujan yang melunturkan kesedihan. Petir mengembalikan kesadaran. Badai membisikkan sesuatu yang menggelitik. Kau tau apa katanya? Menantimu untuk menghiburku adalah sebuah kesia-sia-an.

KISAH ABDUR RAHMAN BIN MULJAM (IBNU MULJAM)

Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam. Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Itulah kebodohan dan kesesatan orang khawarij, yang saat ini telah bermunculan generasi penerusnya. Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِ...